Setiap peringatan Hari Guru, saya selalu teringat bahwa salah satu pengabdian terbesar dalam Persyarikatan Muhammadiyah adalah perjuangan di bidang pendidikan. Dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dari sekolah kecil di kampung terpencil hingga kampus besar di kota, seluruhnya dibangun dengan semangat dakwah dan pengabdian. Tidak hanya soal mendidik, tetapi juga membangun peradaban. Sebagai kader Muhammadiyah, saya melihat bahwa kekuatan Persyarikatan tidak semata terletak pada jumlah aset atau besarnya amal usaha, melainkan pada komitmen panjang para guru dan para pegiat pendidikan yang menghidupkan sekolah-sekolah tersebut.
Sering kita dengar bahwa Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam dengan aset terbesar di Indonesia. Data jumlah sekolah, tanah wakaf, serta amal usaha memang menunjukkan skala yang luas. Namun bagi saya, kekayaan terbesar itu bukanlah angka, melainkan ribuan sekolah yang menjadi rumah ilmu bagi masyarakat. Dari gedung megah di kota hingga bangunan kayu sederhana di pelosok, semua adalah tanda bahwa Muhammadiyah hadir untuk memberi manfaat.
Meski demikian, realitas di lapangan memberi kita pelajaran sekaligus tanggung jawab. Banyak sekolah Muhammadiyah di pelosok masih berjuang dengan sarana prasarana terbatas. Ada ruang kelas yang perlu diperbaiki, laboratorium yang belum lengkap, serta fasilitas pendukung yang masih jauh dari ideal. Sebagai kader, saya melihat kondisi ini bukan sebagai kekurangan, tetapi sebagai ruang kontribusi yang harus terus dibuka. Di sekolah-sekolah seperti inilah semangat pengabdian para guru benar-benar terlihat.
Guru-guru honorer Muhammadiyah, khususnya di daerah terpencil, bekerja dalam kondisi yang sering kali tidak mudah. Mereka menjaga kelas dengan gaji yang belum memadai, bahkan ada yang harus menempuh perjalanan jauh setiap hari. Namun mereka tetap hadir, tetap mengajar, dan tetap membimbing siswa-siswi dengan kesabaran yang luar biasa. Pada momentum Hari Guru ini, saya melihat keteguhan mereka sebagai kekuatan moral Persyarikatan. Tanpa suara yang lantang, tanpa mengeluh, mereka membawa panji Muhammadiyah di ruang-ruang kelas yang sederhana.
Karena itu, hari guru menjadi pengingat bagi kita semua, terutama para kader, bahwa kerja-kerja pendidikan Muhammadiyah tidak boleh berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi, kepedulian, dan inovasi agar sekolah-sekolah di pelosok tidak tertinggal. Kita memiliki modal sosial yang kuat, jaringan kelembagaan yang luas, dan semangat gotong royong yang diwariskan para pendahulu. Momentum ini seharusnya menjadi saat bagi kita memperbarui komitmen membantu meningkatkan sarana pendidikan, mendukung kesejahteraan guru, serta memperkuat sistem pembinaan sekolah di semua tingkatan.
Sebagai kader Muhammadiyah, saya yakin bahwa masa depan pendidikan kita akan terus bergerak maju bila setiap dari kita mengambil bagian, sekecil apa pun. Hari Guru bukan hanya perayaan simbolik, tetapi panggilan bagi kita untuk menghargai dan memperkuat peran guru, terutama mereka yang berada di garis terdepan pengabdian. Dari sinilah saya percaya, kekayaan Muhammadiyah yang sesungguhnya adalah dedikasi para guru dan komitmen kita bersama untuk terus memajukan pendidikan bangsa.
Evan Bastian, S.Pd.I., M.Pd
Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Tengah